BURIKS Indonesian Forum
SELAMAT DATANG DI FORUM BURIKS!!!!
silahkan register terlebih dahulu.
semua bebas join dan posting !!


BURIKS Indonesian Forum

AYO JOIN FORUM BURIKS SEKARANG
 
IndeksCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLoginDONATE


Share | 
 

 pahlawan kita

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
IHaveASexyButt
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 16
Join date : 17.02.10
Age : 21

PostSubyek: pahlawan kita   Wed Feb 17, 2010 8:58 am


Maulwi Saelan (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 8 Agustus 1928; umur 81 tahun[1]) adalah salah satu pemain sebak bola legendaris [2] dan juga pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia juga pernah menjadi salah satu ajudan pribadi presiden Soekarno. Selain itu ia dikenal juga sebagai pendiri Taman Siswa Makassar.
tambahan dari burikers:

mbahgemblung wrote:
"KAMI ini sisa-sisa pengawal revolusi," kata H Maulwi Saelan dengan serius, sambil memeluk erat rekannya, sesama pejuang tua. Hadirin yang datang dan disambutnya mesra, raut tubuhnya sudah melapuk dimakan usia. Namun, mereka tetap memiliki sorot mata tajam. Seolah-olah ingin menunjukkan, raut tubuh tua hanya sekadar tampak luar dan bukan lemah semangat dalam berjuang.

Saelan, pensiunan kolonel korps polisi militer, melanjutkan kalimatnya, "Jumlahnya terus menyusut, tetapi kami prajurit yang terpanggil oleh revolusi kemerdekaan, bertekad memberikan segalanya demi tegaknya revolusi Indonesia."

Rabu, 22 Mei 2002 sore hari, ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta berubah menjadi tempat reuni antarpengawal revolusi. Acara saat itu peluncuran buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku setebal 410 halaman berupa kesaksian Kolonel Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.

Tidak mengherankan kalau sebagian besar undangan adalah para Soekarnois, loyalis Bung Karno, khususnya sisa-sisa anggota Resimen Tjakrabirawa. Saelan berkata, "Saya pibadi dan kami semua sangat bangga, acara ini dihadiri putri beliau yang kini menjadi Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri." Dengan tersenyum, Presiden Megawati kemudian menulis pada halaman pertama buku, Untuk Oom Saelan, dengan salam, MERDEKA....


***

"SAYANG, Ali Ebram tidak bisa datang, dia masih di Solo," lapor Djunta Sukardi, mantan anggota Tentara Pelajar yang kemudian menjabat kepala pemberantasan penyelundupan di bea cukai. Ali Ebram yang disebut adalah asisten intelijen Resimen Tjakrabirawa.

"Lho, Saminu juga di sana, katanya baru sembuh dari sakit?" Jabatan Kolonel KKO (kini marinir) Saminu Komandan Batalyon IV Tjakrabirawa. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Sidik Kardi yang pernah menjadi Ketua Mahmilti (Mahkamah Militer Tinggi) menyebutkan, "... itu posisi terakhir saya sebelum ditahan 14 tahun Orde Baru, gara-gara menolak keinginan Soeharto untuk memeriksa Bung Karno. Lha, apanya yang mau diperiksa? Saya tolak perintah tersebut, sebagai tumbal langsung di-ciduk...."

Omar Dani, bekas Panglima Angkatan Udara mengungkapkan, "Wah kalau ngomong soal pengalaman di penjara, ini lurah paling jago ketika kami berada di sana."

Yang disebut lurah adalah Mayjen Moersid, eks Deputy Operasi Panglima Angkatan Darat. Moersid mengatakan, "Meskipun di penjara, kita tidak pernah kehilangan harga diri. Kalau memang dianggap bersalah, mengapa Soeharto tak pernah berani mengadili kita? Kesalahan kita hanya satu, membela kebenaran dan mempertahankan Bung Karno...."


***

HIDUP adalah pengabdian. Maulwi Saelan telah membuktikannya dengan menumpahkan pengabdian dalam beragam bidang. Dilahirkan di Makassar tanggal 8 Agustus 1936 tahun silam, sejak bocah, putra nomor dua dan anak lelaki satu-satunya dari Amin Saelan ini sudah punya impian menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olimpiade. "Ini gara-gara saya terpukau kejayaan pelari Jesse Owens yang berhasil memborong empat medali emas dalam Olimpiade Berlin tahun 1956."

Impian Maulwi sewaktu kecil menjadi kenyataan tanggal 17 November 1956. "Saya ditunjuk mempertahankan gawang kesebelasan Indonesia pada pertandingan bola Olimpiade XVI di Melbourne, Australia." Diperkuat para pemain legendaris, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan sebagai kapten, untuk pertama kalinya tim sepak bola Indonesia tampil di olimpiade. Mereka menahan kesebelasan Uni Soviet (nantinya juara Olimpiade Melbourne) dalam posisi 0-0, bahkan sampai perpanjangan waktu dua kali 15 menit.

Saelan mengenang, "Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti."

Persis 36 jam kemudian pertandingan diulang. Tim Indonesia yang sudah diremukkan (dua pemain cedera pada pertandingan pertama), kalah secara terhormat kepada Uni Soviet dengan angka 0-4 dalam pertandingan ulangan.


***

PENGABDIAN Saelan yang kedua adalah memenuhi panggilan revolusi. Dalam usia di bawah 20 tahun, dia ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Emmy Saelan, kakak Maulwi, gugur ketika Belanda menyergap Robert Walter Monginsidi, yang nantinya dijatuhi hukuman mati.

Seusai perjanjian Linggajati yang hanya mengakui Republik berkuasa di Madura, Jawa, dan sebagian Sumatera, "Memaksa saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu." Saelan bertempur di Malang selatan. Karier tersebut mengantarnya menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan tahun 1958 berjumpa Bung Karno di Pare-pare, Sulsel.

"Bung Karno mengenal saya berkat Olimpiade Melbourne. Beliau tanya siapa ayah saya, Amin Saelan pendiri Taman Siswa Makassar...." Ketika tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk, Saelan dipanggil dan ditempatkan sebagai kepala staf, kemudian menjadi wakil komandan ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1966 meletus.

"Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d'etat, kudeta perlahan-lahan." Dalam bukunya, Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Presiden Soekarno di-preteli.

Saelan bisa melakukannya, oleh karena setelah Surat Perintah 11 Maret keluar, dia bertugas sebagai ajudan Bung Karno. Dan dalam senja kehidupan Bung Karno yang semakin larut, dia masih tetap mendampingi. "Saya sangat kecewa dengan tersebarnya pengakuan Bambang Widjarnako yang mengatakan Bung Karno terlibat G30S/PKI. Bambang, satu-satunya bekas ajudan Bapak yang bersedia tanda tangan pada surat pemeriksaan interogrator Orba dalam versi G30S/PKI sebagaimana sudah mereka arahkan sejak awal."


***

KESAKSIAN Saelan membuka wacana baru sekitar latar belakang Peristiwa G30S/PKI yang sampai sekarang masih kelabu pada hari-hari terakhir penderitaan Bung Karno. Ketika sang proklamator dibiarkan sakit, mengenai proses pengusiran Bung Karno dan keluarganya dari Kompleks Istana dalam waktu empat jam.

"Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal usang. Bajunya disampirkan ke pundak...," paparnya.

Sesudah dibebaskan dari tahanan empat tahun delapan bulan, pengabdian Maulwi Saelan tidak surut. Tahun 1979 dia mendirikan Yayasan Syifa Budi yang kini masih dipimpinnya, mengelola perguruan Al Azhar, lembaga pendidikan sangat prestisius.

"Saya terkesan oleh Surat Al-Alaq ayat I-5, awal turunnya Al Quran yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan bisa menjadi Khalifah Allah, itu saja yang ingin terus saya jalani sampai sekarang ini." (JULIUS POUR)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
jordan2795
Burikers Active
Burikers Active
avatar

Posts : 110
Join date : 06.02.10
Age : 22

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Wed Feb 17, 2010 9:01 am

HEBAT!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
theredevils
Pemula
Pemula


Posts : 2
Join date : 17.02.10

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Wed Feb 17, 2010 9:10 am

KEREN cheers
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
foxycleopatra
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 5
Join date : 16.02.10
Age : 22
Location : jakarta

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Thu Feb 18, 2010 3:43 am

awesome!! GO pak saelan!! cheers
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://www.sandrakatrina.tumblr.com
muller
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 44
Join date : 07.02.10
Age : 22
Location : Somewhere

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Thu Feb 18, 2010 12:34 pm

wes pak saelan . . .


Terakhir diubah oleh muller tanggal Fri Feb 19, 2010 7:15 am, total 1 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Admin
Administrator
Administrator
avatar

Posts : 109
Join date : 06.02.10
Age : 22
Location : pondok indah tercinta

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Thu Feb 18, 2010 7:42 pm

hmmm....
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://buriks.forumtk.net
jordan2795
Burikers Active
Burikers Active
avatar

Posts : 110
Join date : 06.02.10
Age : 22

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Thu Feb 18, 2010 7:43 pm

bang admin kenapa?haha
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
iwannapoop
MASTER BURIK
MASTER BURIK
avatar

Posts : 25
Join date : 13.02.10

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Thu Feb 18, 2010 8:04 pm

one of the best threads
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
muqrizie
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 30
Join date : 15.02.10

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 7:19 am

hebat! pak saelan bisa main bola
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Tamu
Tamu



PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 7:22 am

WOW
Kembali Ke Atas Go down
mbahgemblung
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 36
Join date : 15.02.10
Age : 36
Location : jakarta

PostSubyek: tambahan   Fri Feb 19, 2010 11:27 am

"KAMI ini sisa-sisa pengawal revolusi," kata H Maulwi Saelan dengan serius, sambil memeluk erat rekannya, sesama pejuang tua. Hadirin yang datang dan disambutnya mesra, raut tubuhnya sudah melapuk dimakan usia. Namun, mereka tetap memiliki sorot mata tajam. Seolah-olah ingin menunjukkan, raut tubuh tua hanya sekadar tampak luar dan bukan lemah semangat dalam berjuang.

Saelan, pensiunan kolonel korps polisi militer, melanjutkan kalimatnya, "Jumlahnya terus menyusut, tetapi kami prajurit yang terpanggil oleh revolusi kemerdekaan, bertekad memberikan segalanya demi tegaknya revolusi Indonesia."

Rabu, 22 Mei 2002 sore hari, ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta berubah menjadi tempat reuni antarpengawal revolusi. Acara saat itu peluncuran buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku setebal 410 halaman berupa kesaksian Kolonel Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.

Tidak mengherankan kalau sebagian besar undangan adalah para Soekarnois, loyalis Bung Karno, khususnya sisa-sisa anggota Resimen Tjakrabirawa. Saelan berkata, "Saya pibadi dan kami semua sangat bangga, acara ini dihadiri putri beliau yang kini menjadi Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri." Dengan tersenyum, Presiden Megawati kemudian menulis pada halaman pertama buku, Untuk Oom Saelan, dengan salam, MERDEKA....


***

"SAYANG, Ali Ebram tidak bisa datang, dia masih di Solo," lapor Djunta Sukardi, mantan anggota Tentara Pelajar yang kemudian menjabat kepala pemberantasan penyelundupan di bea cukai. Ali Ebram yang disebut adalah asisten intelijen Resimen Tjakrabirawa.

"Lho, Saminu juga di sana, katanya baru sembuh dari sakit?" Jabatan Kolonel KKO (kini marinir) Saminu Komandan Batalyon IV Tjakrabirawa. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Sidik Kardi yang pernah menjadi Ketua Mahmilti (Mahkamah Militer Tinggi) menyebutkan, "... itu posisi terakhir saya sebelum ditahan 14 tahun Orde Baru, gara-gara menolak keinginan Soeharto untuk memeriksa Bung Karno. Lha, apanya yang mau diperiksa? Saya tolak perintah tersebut, sebagai tumbal langsung di-ciduk...."

Omar Dani, bekas Panglima Angkatan Udara mengungkapkan, "Wah kalau ngomong soal pengalaman di penjara, ini lurah paling jago ketika kami berada di sana."

Yang disebut lurah adalah Mayjen Moersid, eks Deputy Operasi Panglima Angkatan Darat. Moersid mengatakan, "Meskipun di penjara, kita tidak pernah kehilangan harga diri. Kalau memang dianggap bersalah, mengapa Soeharto tak pernah berani mengadili kita? Kesalahan kita hanya satu, membela kebenaran dan mempertahankan Bung Karno...."


***

HIDUP adalah pengabdian. Maulwi Saelan telah membuktikannya dengan menumpahkan pengabdian dalam beragam bidang. Dilahirkan di Makassar tanggal 8 Agustus 1936 tahun silam, sejak bocah, putra nomor dua dan anak lelaki satu-satunya dari Amin Saelan ini sudah punya impian menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olimpiade. "Ini gara-gara saya terpukau kejayaan pelari Jesse Owens yang berhasil memborong empat medali emas dalam Olimpiade Berlin tahun 1956."

Impian Maulwi sewaktu kecil menjadi kenyataan tanggal 17 November 1956. "Saya ditunjuk mempertahankan gawang kesebelasan Indonesia pada pertandingan bola Olimpiade XVI di Melbourne, Australia." Diperkuat para pemain legendaris, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan sebagai kapten, untuk pertama kalinya tim sepak bola Indonesia tampil di olimpiade. Mereka menahan kesebelasan Uni Soviet (nantinya juara Olimpiade Melbourne) dalam posisi 0-0, bahkan sampai perpanjangan waktu dua kali 15 menit.

Saelan mengenang, "Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti."

Persis 36 jam kemudian pertandingan diulang. Tim Indonesia yang sudah diremukkan (dua pemain cedera pada pertandingan pertama), kalah secara terhormat kepada Uni Soviet dengan angka 0-4 dalam pertandingan ulangan.


***

PENGABDIAN Saelan yang kedua adalah memenuhi panggilan revolusi. Dalam usia di bawah 20 tahun, dia ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Emmy Saelan, kakak Maulwi, gugur ketika Belanda menyergap Robert Walter Monginsidi, yang nantinya dijatuhi hukuman mati.

Seusai perjanjian Linggajati yang hanya mengakui Republik berkuasa di Madura, Jawa, dan sebagian Sumatera, "Memaksa saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu." Saelan bertempur di Malang selatan. Karier tersebut mengantarnya menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan tahun 1958 berjumpa Bung Karno di Pare-pare, Sulsel.

"Bung Karno mengenal saya berkat Olimpiade Melbourne. Beliau tanya siapa ayah saya, Amin Saelan pendiri Taman Siswa Makassar...." Ketika tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk, Saelan dipanggil dan ditempatkan sebagai kepala staf, kemudian menjadi wakil komandan ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1966 meletus.

"Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d'etat, kudeta perlahan-lahan." Dalam bukunya, Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Presiden Soekarno di-preteli.

Saelan bisa melakukannya, oleh karena setelah Surat Perintah 11 Maret keluar, dia bertugas sebagai ajudan Bung Karno. Dan dalam senja kehidupan Bung Karno yang semakin larut, dia masih tetap mendampingi. "Saya sangat kecewa dengan tersebarnya pengakuan Bambang Widjarnako yang mengatakan Bung Karno terlibat G30S/PKI. Bambang, satu-satunya bekas ajudan Bapak yang bersedia tanda tangan pada surat pemeriksaan interogrator Orba dalam versi G30S/PKI sebagaimana sudah mereka arahkan sejak awal."


***

KESAKSIAN Saelan membuka wacana baru sekitar latar belakang Peristiwa G30S/PKI yang sampai sekarang masih kelabu pada hari-hari terakhir penderitaan Bung Karno. Ketika sang proklamator dibiarkan sakit, mengenai proses pengusiran Bung Karno dan keluarganya dari Kompleks Istana dalam waktu empat jam.

"Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal usang. Bajunya disampirkan ke pundak...," paparnya.

Sesudah dibebaskan dari tahanan empat tahun delapan bulan, pengabdian Maulwi Saelan tidak surut. Tahun 1979 dia mendirikan Yayasan Syifa Budi yang kini masih dipimpinnya, mengelola perguruan Al Azhar, lembaga pendidikan sangat prestisius.

"Saya terkesan oleh Surat Al-Alaq ayat I-5, awal turunnya Al Quran yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan bisa menjadi Khalifah Allah, itu saja yang ingin terus saya jalani sampai sekarang ini." (JULIUS POUR)
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
mbahgemblung
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 36
Join date : 15.02.10
Age : 36
Location : jakarta

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 11:32 am



Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Arwiniw
Banned Moderator
Banned Moderator
avatar

Posts : 145
Join date : 06.02.10
Location : Amazon

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 3:34 pm

mbahgemblung wrote:
"KAMI ini sisa-sisa pengawal revolusi," kata H Maulwi Saelan dengan serius, sambil memeluk erat rekannya, sesama pejuang tua. Hadirin yang datang dan disambutnya mesra, raut tubuhnya sudah melapuk dimakan usia. Namun, mereka tetap memiliki sorot mata tajam. Seolah-olah ingin menunjukkan, raut tubuh tua hanya sekadar tampak luar dan bukan lemah semangat dalam berjuang.

Saelan, pensiunan kolonel korps polisi militer, melanjutkan kalimatnya, "Jumlahnya terus menyusut, tetapi kami prajurit yang terpanggil oleh revolusi kemerdekaan, bertekad memberikan segalanya demi tegaknya revolusi Indonesia."

Rabu, 22 Mei 2002 sore hari, ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta berubah menjadi tempat reuni antarpengawal revolusi. Acara saat itu peluncuran buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku setebal 410 halaman berupa kesaksian Kolonel Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.

Tidak mengherankan kalau sebagian besar undangan adalah para Soekarnois, loyalis Bung Karno, khususnya sisa-sisa anggota Resimen Tjakrabirawa. Saelan berkata, "Saya pibadi dan kami semua sangat bangga, acara ini dihadiri putri beliau yang kini menjadi Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri." Dengan tersenyum, Presiden Megawati kemudian menulis pada halaman pertama buku, Untuk Oom Saelan, dengan salam, MERDEKA....


***

"SAYANG, Ali Ebram tidak bisa datang, dia masih di Solo," lapor Djunta Sukardi, mantan anggota Tentara Pelajar yang kemudian menjabat kepala pemberantasan penyelundupan di bea cukai. Ali Ebram yang disebut adalah asisten intelijen Resimen Tjakrabirawa.

"Lho, Saminu juga di sana, katanya baru sembuh dari sakit?" Jabatan Kolonel KKO (kini marinir) Saminu Komandan Batalyon IV Tjakrabirawa. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Sidik Kardi yang pernah menjadi Ketua Mahmilti (Mahkamah Militer Tinggi) menyebutkan, "... itu posisi terakhir saya sebelum ditahan 14 tahun Orde Baru, gara-gara menolak keinginan Soeharto untuk memeriksa Bung Karno. Lha, apanya yang mau diperiksa? Saya tolak perintah tersebut, sebagai tumbal langsung di-ciduk...."

Omar Dani, bekas Panglima Angkatan Udara mengungkapkan, "Wah kalau ngomong soal pengalaman di penjara, ini lurah paling jago ketika kami berada di sana."

Yang disebut lurah adalah Mayjen Moersid, eks Deputy Operasi Panglima Angkatan Darat. Moersid mengatakan, "Meskipun di penjara, kita tidak pernah kehilangan harga diri. Kalau memang dianggap bersalah, mengapa Soeharto tak pernah berani mengadili kita? Kesalahan kita hanya satu, membela kebenaran dan mempertahankan Bung Karno...."


***

HIDUP adalah pengabdian. Maulwi Saelan telah membuktikannya dengan menumpahkan pengabdian dalam beragam bidang. Dilahirkan di Makassar tanggal 8 Agustus 1936 tahun silam, sejak bocah, putra nomor dua dan anak lelaki satu-satunya dari Amin Saelan ini sudah punya impian menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olimpiade. "Ini gara-gara saya terpukau kejayaan pelari Jesse Owens yang berhasil memborong empat medali emas dalam Olimpiade Berlin tahun 1956."

Impian Maulwi sewaktu kecil menjadi kenyataan tanggal 17 November 1956. "Saya ditunjuk mempertahankan gawang kesebelasan Indonesia pada pertandingan bola Olimpiade XVI di Melbourne, Australia." Diperkuat para pemain legendaris, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan sebagai kapten, untuk pertama kalinya tim sepak bola Indonesia tampil di olimpiade. Mereka menahan kesebelasan Uni Soviet (nantinya juara Olimpiade Melbourne) dalam posisi 0-0, bahkan sampai perpanjangan waktu dua kali 15 menit.

Saelan mengenang, "Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti."

Persis 36 jam kemudian pertandingan diulang. Tim Indonesia yang sudah diremukkan (dua pemain cedera pada pertandingan pertama), kalah secara terhormat kepada Uni Soviet dengan angka 0-4 dalam pertandingan ulangan.


***

PENGABDIAN Saelan yang kedua adalah memenuhi panggilan revolusi. Dalam usia di bawah 20 tahun, dia ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Emmy Saelan, kakak Maulwi, gugur ketika Belanda menyergap Robert Walter Monginsidi, yang nantinya dijatuhi hukuman mati.

Seusai perjanjian Linggajati yang hanya mengakui Republik berkuasa di Madura, Jawa, dan sebagian Sumatera, "Memaksa saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu." Saelan bertempur di Malang selatan. Karier tersebut mengantarnya menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan tahun 1958 berjumpa Bung Karno di Pare-pare, Sulsel.

"Bung Karno mengenal saya berkat Olimpiade Melbourne. Beliau tanya siapa ayah saya, Amin Saelan pendiri Taman Siswa Makassar...." Ketika tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk, Saelan dipanggil dan ditempatkan sebagai kepala staf, kemudian menjadi wakil komandan ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1966 meletus.

"Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d'etat, kudeta perlahan-lahan." Dalam bukunya, Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Presiden Soekarno di-preteli.

Saelan bisa melakukannya, oleh karena setelah Surat Perintah 11 Maret keluar, dia bertugas sebagai ajudan Bung Karno. Dan dalam senja kehidupan Bung Karno yang semakin larut, dia masih tetap mendampingi. "Saya sangat kecewa dengan tersebarnya pengakuan Bambang Widjarnako yang mengatakan Bung Karno terlibat G30S/PKI. Bambang, satu-satunya bekas ajudan Bapak yang bersedia tanda tangan pada surat pemeriksaan interogrator Orba dalam versi G30S/PKI sebagaimana sudah mereka arahkan sejak awal."


***

KESAKSIAN Saelan membuka wacana baru sekitar latar belakang Peristiwa G30S/PKI yang sampai sekarang masih kelabu pada hari-hari terakhir penderitaan Bung Karno. Ketika sang proklamator dibiarkan sakit, mengenai proses pengusiran Bung Karno dan keluarganya dari Kompleks Istana dalam waktu empat jam.

"Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal usang. Bajunya disampirkan ke pundak...," paparnya.

Sesudah dibebaskan dari tahanan empat tahun delapan bulan, pengabdian Maulwi Saelan tidak surut. Tahun 1979 dia mendirikan Yayasan Syifa Budi yang kini masih dipimpinnya, mengelola perguruan Al Azhar, lembaga pendidikan sangat prestisius.

"Saya terkesan oleh Surat Al-Alaq ayat I-5, awal turunnya Al Quran yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan bisa menjadi Khalifah Allah, itu saja yang ingin terus saya jalani sampai sekarang ini." (JULIUS POUR)

pasti copas albino
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
muller
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 44
Join date : 07.02.10
Age : 22
Location : Somewhere

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 7:05 pm

tambah lengkap aja ni . . .
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Arwiniw
Banned Moderator
Banned Moderator
avatar

Posts : 145
Join date : 06.02.10
Location : Amazon

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Fri Feb 19, 2010 8:37 pm

hooammm...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
bocahtengik
Bocah
Bocah
avatar

Posts : 65
Join date : 08.02.10
Location : dimana-mana hatiku senang

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Sat Feb 20, 2010 6:12 am

mantab
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
jordan2795
Burikers Active
Burikers Active
avatar

Posts : 110
Join date : 06.02.10
Age : 22

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Sun Feb 21, 2010 8:05 pm

hokeeh...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Spetsnaz
Иосиф В. Сталин
Иосиф В. Сталин
avatar

Posts : 159
Join date : 06.02.10
Age : 22
Location : Moscow

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Sun Feb 21, 2010 10:55 pm

Mantab nih Hot Thread cheers
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
mbahgemblung
Pemula
Pemula
avatar

Posts : 36
Join date : 15.02.10
Age : 36
Location : jakarta

PostSubyek: copas??? copas !!!   Mon Feb 22, 2010 12:12 pm

Arwiniw wrote:
mbahgemblung wrote:
"KAMI ini sisa-sisa pengawal revolusi," kata H Maulwi Saelan dengan serius, sambil memeluk erat rekannya, sesama pejuang tua. Hadirin yang datang dan disambutnya mesra, raut tubuhnya sudah melapuk dimakan usia. Namun, mereka tetap memiliki sorot mata tajam. Seolah-olah ingin menunjukkan, raut tubuh tua hanya sekadar tampak luar dan bukan lemah semangat dalam berjuang.

Saelan, pensiunan kolonel korps polisi militer, melanjutkan kalimatnya, "Jumlahnya terus menyusut, tetapi kami prajurit yang terpanggil oleh revolusi kemerdekaan, bertekad memberikan segalanya demi tegaknya revolusi Indonesia."

Rabu, 22 Mei 2002 sore hari, ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta berubah menjadi tempat reuni antarpengawal revolusi. Acara saat itu peluncuran buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku setebal 410 halaman berupa kesaksian Kolonel Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.

Tidak mengherankan kalau sebagian besar undangan adalah para Soekarnois, loyalis Bung Karno, khususnya sisa-sisa anggota Resimen Tjakrabirawa. Saelan berkata, "Saya pibadi dan kami semua sangat bangga, acara ini dihadiri putri beliau yang kini menjadi Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri." Dengan tersenyum, Presiden Megawati kemudian menulis pada halaman pertama buku, Untuk Oom Saelan, dengan salam, MERDEKA....


***

"SAYANG, Ali Ebram tidak bisa datang, dia masih di Solo," lapor Djunta Sukardi, mantan anggota Tentara Pelajar yang kemudian menjabat kepala pemberantasan penyelundupan di bea cukai. Ali Ebram yang disebut adalah asisten intelijen Resimen Tjakrabirawa.

"Lho, Saminu juga di sana, katanya baru sembuh dari sakit?" Jabatan Kolonel KKO (kini marinir) Saminu Komandan Batalyon IV Tjakrabirawa. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Sidik Kardi yang pernah menjadi Ketua Mahmilti (Mahkamah Militer Tinggi) menyebutkan, "... itu posisi terakhir saya sebelum ditahan 14 tahun Orde Baru, gara-gara menolak keinginan Soeharto untuk memeriksa Bung Karno. Lha, apanya yang mau diperiksa? Saya tolak perintah tersebut, sebagai tumbal langsung di-ciduk...."

Omar Dani, bekas Panglima Angkatan Udara mengungkapkan, "Wah kalau ngomong soal pengalaman di penjara, ini lurah paling jago ketika kami berada di sana."

Yang disebut lurah adalah Mayjen Moersid, eks Deputy Operasi Panglima Angkatan Darat. Moersid mengatakan, "Meskipun di penjara, kita tidak pernah kehilangan harga diri. Kalau memang dianggap bersalah, mengapa Soeharto tak pernah berani mengadili kita? Kesalahan kita hanya satu, membela kebenaran dan mempertahankan Bung Karno...."


***

HIDUP adalah pengabdian. Maulwi Saelan telah membuktikannya dengan menumpahkan pengabdian dalam beragam bidang. Dilahirkan di Makassar tanggal 8 Agustus 1936 tahun silam, sejak bocah, putra nomor dua dan anak lelaki satu-satunya dari Amin Saelan ini sudah punya impian menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olimpiade. "Ini gara-gara saya terpukau kejayaan pelari Jesse Owens yang berhasil memborong empat medali emas dalam Olimpiade Berlin tahun 1956."

Impian Maulwi sewaktu kecil menjadi kenyataan tanggal 17 November 1956. "Saya ditunjuk mempertahankan gawang kesebelasan Indonesia pada pertandingan bola Olimpiade XVI di Melbourne, Australia." Diperkuat para pemain legendaris, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan sebagai kapten, untuk pertama kalinya tim sepak bola Indonesia tampil di olimpiade. Mereka menahan kesebelasan Uni Soviet (nantinya juara Olimpiade Melbourne) dalam posisi 0-0, bahkan sampai perpanjangan waktu dua kali 15 menit.

Saelan mengenang, "Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti."

Persis 36 jam kemudian pertandingan diulang. Tim Indonesia yang sudah diremukkan (dua pemain cedera pada pertandingan pertama), kalah secara terhormat kepada Uni Soviet dengan angka 0-4 dalam pertandingan ulangan.


***

PENGABDIAN Saelan yang kedua adalah memenuhi panggilan revolusi. Dalam usia di bawah 20 tahun, dia ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Emmy Saelan, kakak Maulwi, gugur ketika Belanda menyergap Robert Walter Monginsidi, yang nantinya dijatuhi hukuman mati.

Seusai perjanjian Linggajati yang hanya mengakui Republik berkuasa di Madura, Jawa, dan sebagian Sumatera, "Memaksa saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu." Saelan bertempur di Malang selatan. Karier tersebut mengantarnya menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan tahun 1958 berjumpa Bung Karno di Pare-pare, Sulsel.

"Bung Karno mengenal saya berkat Olimpiade Melbourne. Beliau tanya siapa ayah saya, Amin Saelan pendiri Taman Siswa Makassar...." Ketika tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk, Saelan dipanggil dan ditempatkan sebagai kepala staf, kemudian menjadi wakil komandan ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1966 meletus.

"Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d'etat, kudeta perlahan-lahan." Dalam bukunya, Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Presiden Soekarno di-preteli.

Saelan bisa melakukannya, oleh karena setelah Surat Perintah 11 Maret keluar, dia bertugas sebagai ajudan Bung Karno. Dan dalam senja kehidupan Bung Karno yang semakin larut, dia masih tetap mendampingi. "Saya sangat kecewa dengan tersebarnya pengakuan Bambang Widjarnako yang mengatakan Bung Karno terlibat G30S/PKI. Bambang, satu-satunya bekas ajudan Bapak yang bersedia tanda tangan pada surat pemeriksaan interogrator Orba dalam versi G30S/PKI sebagaimana sudah mereka arahkan sejak awal."


***

KESAKSIAN Saelan membuka wacana baru sekitar latar belakang Peristiwa G30S/PKI yang sampai sekarang masih kelabu pada hari-hari terakhir penderitaan Bung Karno. Ketika sang proklamator dibiarkan sakit, mengenai proses pengusiran Bung Karno dan keluarganya dari Kompleks Istana dalam waktu empat jam.

"Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal usang. Bajunya disampirkan ke pundak...," paparnya.

Sesudah dibebaskan dari tahanan empat tahun delapan bulan, pengabdian Maulwi Saelan tidak surut. Tahun 1979 dia mendirikan Yayasan Syifa Budi yang kini masih dipimpinnya, mengelola perguruan Al Azhar, lembaga pendidikan sangat prestisius.


"Saya terkesan oleh Surat Al-Alaq ayat I-5, awal turunnya Al Quran yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan bisa menjadi Khalifah Allah, itu saja yang ingin terus saya jalani sampai sekarang ini." (JULIUS POUR)

pasti copas albino

emang ada di sini yang bikin sendiri??
tunjukin dong...
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Spetsnaz
Иосиф В. Сталин
Иосиф В. Сталин
avatar

Posts : 159
Join date : 06.02.10
Age : 22
Location : Moscow

PostSubyek: Re: pahlawan kita   Wed Feb 24, 2010 9:45 am

mbahgemblung wrote:
Arwiniw wrote:
mbahgemblung wrote:
"KAMI ini sisa-sisa pengawal revolusi," kata H Maulwi Saelan dengan serius, sambil memeluk erat rekannya, sesama pejuang tua. Hadirin yang datang dan disambutnya mesra, raut tubuhnya sudah melapuk dimakan usia. Namun, mereka tetap memiliki sorot mata tajam. Seolah-olah ingin menunjukkan, raut tubuh tua hanya sekadar tampak luar dan bukan lemah semangat dalam berjuang.

Saelan, pensiunan kolonel korps polisi militer, melanjutkan kalimatnya, "Jumlahnya terus menyusut, tetapi kami prajurit yang terpanggil oleh revolusi kemerdekaan, bertekad memberikan segalanya demi tegaknya revolusi Indonesia."

Rabu, 22 Mei 2002 sore hari, ballroom C Hotel Shangri-La Jakarta berubah menjadi tempat reuni antarpengawal revolusi. Acara saat itu peluncuran buku Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66. Buku setebal 410 halaman berupa kesaksian Kolonel Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa, pasukan pengawal Presiden Soekarno.

Tidak mengherankan kalau sebagian besar undangan adalah para Soekarnois, loyalis Bung Karno, khususnya sisa-sisa anggota Resimen Tjakrabirawa. Saelan berkata, "Saya pibadi dan kami semua sangat bangga, acara ini dihadiri putri beliau yang kini menjadi Presiden Indonesia, Megawati Soekarnoputri." Dengan tersenyum, Presiden Megawati kemudian menulis pada halaman pertama buku, Untuk Oom Saelan, dengan salam, MERDEKA....


***

"SAYANG, Ali Ebram tidak bisa datang, dia masih di Solo," lapor Djunta Sukardi, mantan anggota Tentara Pelajar yang kemudian menjabat kepala pemberantasan penyelundupan di bea cukai. Ali Ebram yang disebut adalah asisten intelijen Resimen Tjakrabirawa.

"Lho, Saminu juga di sana, katanya baru sembuh dari sakit?" Jabatan Kolonel KKO (kini marinir) Saminu Komandan Batalyon IV Tjakrabirawa. Tanpa menunggu jawaban atas pertanyaannya, Sidik Kardi yang pernah menjadi Ketua Mahmilti (Mahkamah Militer Tinggi) menyebutkan, "... itu posisi terakhir saya sebelum ditahan 14 tahun Orde Baru, gara-gara menolak keinginan Soeharto untuk memeriksa Bung Karno. Lha, apanya yang mau diperiksa? Saya tolak perintah tersebut, sebagai tumbal langsung di-ciduk...."

Omar Dani, bekas Panglima Angkatan Udara mengungkapkan, "Wah kalau ngomong soal pengalaman di penjara, ini lurah paling jago ketika kami berada di sana."

Yang disebut lurah adalah Mayjen Moersid, eks Deputy Operasi Panglima Angkatan Darat. Moersid mengatakan, "Meskipun di penjara, kita tidak pernah kehilangan harga diri. Kalau memang dianggap bersalah, mengapa Soeharto tak pernah berani mengadili kita? Kesalahan kita hanya satu, membela kebenaran dan mempertahankan Bung Karno...."


***

HIDUP adalah pengabdian. Maulwi Saelan telah membuktikannya dengan menumpahkan pengabdian dalam beragam bidang. Dilahirkan di Makassar tanggal 8 Agustus 1936 tahun silam, sejak bocah, putra nomor dua dan anak lelaki satu-satunya dari Amin Saelan ini sudah punya impian menjadi pemain sepak bola yang bisa tampil di Olimpiade. "Ini gara-gara saya terpukau kejayaan pelari Jesse Owens yang berhasil memborong empat medali emas dalam Olimpiade Berlin tahun 1956."

Impian Maulwi sewaktu kecil menjadi kenyataan tanggal 17 November 1956. "Saya ditunjuk mempertahankan gawang kesebelasan Indonesia pada pertandingan bola Olimpiade XVI di Melbourne, Australia." Diperkuat para pemain legendaris, Ramang, Djamiat, Him Tjiang, Liong Houw, Kiat Sek, dan Ramlan sebagai kapten, untuk pertama kalinya tim sepak bola Indonesia tampil di olimpiade. Mereka menahan kesebelasan Uni Soviet (nantinya juara Olimpiade Melbourne) dalam posisi 0-0, bahkan sampai perpanjangan waktu dua kali 15 menit.

Saelan mengenang, "Saya jatuh bangun menahan gelombang serbuan beruang merah. Pokoknya, kami bertekad tidak menyerah. Waktu itu masih belum ada peraturan, kalau hasil pertandingan draw, harus dilakukan sudden death tendangan penalti."

Persis 36 jam kemudian pertandingan diulang. Tim Indonesia yang sudah diremukkan (dua pemain cedera pada pertandingan pertama), kalah secara terhormat kepada Uni Soviet dengan angka 0-4 dalam pertandingan ulangan.


***

PENGABDIAN Saelan yang kedua adalah memenuhi panggilan revolusi. Dalam usia di bawah 20 tahun, dia ikut berjuang melawan pasukan khusus NICA yang dipimpin Westerling. Emmy Saelan, kakak Maulwi, gugur ketika Belanda menyergap Robert Walter Monginsidi, yang nantinya dijatuhi hukuman mati.

Seusai perjanjian Linggajati yang hanya mengakui Republik berkuasa di Madura, Jawa, dan sebagian Sumatera, "Memaksa saya dan rekan-rekan meneruskan perjuangan di Jawa, meninggalkan Sulawesi dengan perahu." Saelan bertempur di Malang selatan. Karier tersebut mengantarnya menjadi Wakil Komandan Yon VII/CPM Makassar dan tahun 1958 berjumpa Bung Karno di Pare-pare, Sulsel.

"Bung Karno mengenal saya berkat Olimpiade Melbourne. Beliau tanya siapa ayah saya, Amin Saelan pendiri Taman Siswa Makassar...." Ketika tahun 1962, Resimen Tjakrabirawa dibentuk, Saelan dipanggil dan ditempatkan sebagai kepala staf, kemudian menjadi wakil komandan ketika Peristiwa G30S/PKI tahun 1966 meletus.

"Saya tidak menulis otobiografi, tetapi bertekad meluruskan kesalahpahaman sejarah. Khususnya, tuduhan keterlibatan Bung Karno pada Peristiwa G30S yang pada dasarnya creeping coup d'etat, kudeta perlahan-lahan." Dalam bukunya, Saelan mengungkapkan kenyataan pada hari-hari panjang, sewaktu kekuasaan Presiden Soekarno di-preteli.

Saelan bisa melakukannya, oleh karena setelah Surat Perintah 11 Maret keluar, dia bertugas sebagai ajudan Bung Karno. Dan dalam senja kehidupan Bung Karno yang semakin larut, dia masih tetap mendampingi. "Saya sangat kecewa dengan tersebarnya pengakuan Bambang Widjarnako yang mengatakan Bung Karno terlibat G30S/PKI. Bambang, satu-satunya bekas ajudan Bapak yang bersedia tanda tangan pada surat pemeriksaan interogrator Orba dalam versi G30S/PKI sebagaimana sudah mereka arahkan sejak awal."


***

KESAKSIAN Saelan membuka wacana baru sekitar latar belakang Peristiwa G30S/PKI yang sampai sekarang masih kelabu pada hari-hari terakhir penderitaan Bung Karno. Ketika sang proklamator dibiarkan sakit, mengenai proses pengusiran Bung Karno dan keluarganya dari Kompleks Istana dalam waktu empat jam.

"Bung Karno meninggalkan Istana memakai kaus oblong, piyama, serta sandal usang. Bajunya disampirkan ke pundak...," paparnya.

Sesudah dibebaskan dari tahanan empat tahun delapan bulan, pengabdian Maulwi Saelan tidak surut. Tahun 1979 dia mendirikan Yayasan Syifa Budi yang kini masih dipimpinnya, mengelola perguruan Al Azhar, lembaga pendidikan sangat prestisius.


"Saya terkesan oleh Surat Al-Alaq ayat I-5, awal turunnya Al Quran yang diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan bisa menjadi Khalifah Allah, itu saja yang ingin terus saya jalani sampai sekarang ini." (JULIUS POUR)

pasti copas albino

emang ada di sini yang bikin sendiri??
tunjukin dong...

wah sabar bro.... jangan marah Very Happy
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: pahlawan kita   

Kembali Ke Atas Go down
 

pahlawan kita

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
BURIKS Indonesian Forum :: Sports-